Revolusi labor thinking menjadi
entrepreneur thinking
Secara fundamental, salah satu pilar pembangunan nasional adalah
jumlah wirausahawan karena semakin banyak jumlah pengusaha maka lapangan
pekerjaanpun bertambah sehingga dapat mengurangi tingkat pengangguran. Selain
itu, wirausaha dapat dijaadikan sarana penyalur kreativitas seseorang untuk
mmenghasilkan produk yang berkualitas. Hal ini merupakan akar pokok
permasalahan banyaknya jumlah pengagguran terdidik atau pengagguran sarjana,
yaitu tidak ada media penyalur krativitas. Pengangguran merasa kebingungan
ketika tidak ada lapangan pekerjaan yang sesuai dengan jurusan perkuliahannya,
padahal banyak ide-ide brilian sebagai keahlian tambahannya.
Dalam berita Kompas, Rabu 21 September 2014 tentang Memelesetkan
UKM ke pentas global berisi tentang perlunya UKM yang berkualitas dan mampu
mencukupi kebutuhan dalam negeri. Begitupula dengan tingkat pengangguran yang
harus dikurangi agar siap menerima persaingan dari luar negeri, dimana pasar
bebas terjadi di bidang produk, fasilitas, maupun tenaga kerja. Pengangguran
yang semakin menjamur harus dialihkan ke sektor wirausaha atau pembuka lapangan
kerja agar kesejahteraan sosial masyarakat meningkat demi menghadapi MEA
(Masyarakat Ekonomi Asia). Sebagaimana yang diungkapkap seorang pakar, jika
wirausahawan mencapai 2% dari jumlah penduduk maka negara tersebut akan
mencapai tahapan lepas landas. Kenyataannya Indonesia masih memilik 0.18 %
wirausahawan dari seluruh penduduk Indonesia
Dewasa ini jumlah wirausahawan tidak sebanding dengan jumlah
pekerja ataupun pencari kerja. Banyak alasan yang membuat masyarakat condong
memilih bekerja sebagai pegawai daripada membuka usaha mandiri. Diantaranya,
takut mengambil resiko, permodalan yang minim, dan kreativitas yang rendah. Sebagai
upaya menanggulagi rasa ketakutan akan sebuah resiko besar, pemerintah dapat
mengembangkan program pemberian modal UKM (Usaha Kecil Menengah) dengan menambah
program tambahan, yaitu sustainable controlling. Jadi selain mendapat
pinjaman modal tanpa bunga untuk pengusaha kecil atau pemula, juga mendapat
pengawasan dari pemerintah. Bentuk pengawasannya berupa peninjauan setiap bulan
mengenai total penjualan, pembelian, dan laba usaha. Hal ini dimaksudkan agar
grafik laba meningkat dan tetap stabil.
Sebagai contoh, ketika sebuah usaha mengalami kemunduran karena
penggunaan bahan baku yang tidak efisien seperti pengusaha tempe yang
berlebihan ampas, pemerintah melalui UKM developer menyalurkannya ke
pengusaha tahu yang bernaung di bawah UKM daerah tersebut. Sehingga pengusaha
dibawah naungan UKM dapat saling bekerja sama untuk efisiensi kerja dan
memperoleh laba tinggi. Disisi lain pemasaran akan dipantau sehingga jika
pengusaha mengalami kerugian akibat barang tidak laku, maka UKM developer
menjembataninya dengan bekerja sama dengan daerah lain untuk memasarkan produk
tersebut. Secara keseluruhan program ini meminimalisir ketakutan pengusaha
terhadap kerugia yang berskala besar.
Selanjutnya adalah menangani kreativitas yang rendah, tingkat
kekreativan seseorang dipengaruhi oleh pengetahuannya. Banyak orang yang buta
akan kewirausahaan karena mereka tidak mengetahui cara kerja berwirausaha,
bagaimana mengelolanya, dan apa manfaatnya. Sebagai upaya dini, pemerintah dapat
menjadikan mata pelajaran Kewirausahaan sebagai muatan local atau
ekstrakulikuler. sejak Sekolah Dasar
hingga Sekolah Menengah Atas. Materinya bertahap, jadi materi di Sekolah Dasar
berlanjut di SMP, dan SMA, sehingga ketika pelajar lulus SMA memiliki bekal
Kewirausahaan yang mumpuni dan siap membuka usaha mandiri. Selain materi secara
teori, diperlukan materi praktek lapangan guna mengondisikan teori dengan
kondisi market atau konsumen saat ini. Selain praktik lapangan, siswa-siswi
memiliki program berbagi, yaitu member penyuluhan kepada masyarakat tentang
bagaimana cara berwirausaha dengan benar dan menguntungkan dan memperkenalkan
Kredit masyarakat atau peminjaman modal bagi pengusaha kecil menengah.
Mengingat bahwa wirausaha dapat mengantarkan seseorang di puncak
kesuksesannya, maka perlu inisiatif dari masing-masing individu. Begitupula
lingkungannya, dukungan moral memiliki arti penting. Tak jarang banyak
orang yang akan memulai usaha tetapi
lingkungannya tidak mendukung secara moral sehingga mematahkan semangat untuk
berwirausaha. Bentuk dukungan berupa masukan tentang berbisnis sejauh apa yang
kita ketahui, membagikan informasi mengenai market research yang sesuai
dengan bisnis yang akan digeluti, dan sebagai kerabat/teman/tetangga berusaha
menjadi konsumen yang selalu memberi masukan agar bisnisnya maju dan dapat
dicontoh oleh orang lain.
Bila dilihat dari sisi wirausahawan, maka seorang bos dapat
menginspirasi pekerjanya bahwa berwirausaha itu lebih menguntungkan daripada
bekerja sehingga setelah beberapa tahun bekerja si pekerja dapat berwirausaha
sendiri secara inovatif tanpa menjiplak ide orang lain. Wirausaha bukan hanya
menjual produk, tapi berbagai macam. Bisa menjual jasa, ide, atau pengetahuan.
Dalam hal ini kepekaan akan kebutuhan masyarakat dituntut agar dapat membaca
keinginan dan kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu, sesungguhnya semua orang
dapat berwirausaha sebab setiap individu hidup dalam lingkungan sosial yang
penuh dinamika, mau ini butuh ini, dan sebagainya karena kebutuhan manusia
tidak ada habisnya. Peluang inilah yang menjadi modal utama seorang pengusaha,
bagaimana memenuhi keinginan dan kebutuhan pasar dengan berwirausaha serta
memanfaatkan sumber daya yang ada seoptimal mungkin. (uma)
Comments
Post a Comment