Ayo Pemudi, bangun



Pemuda Sepanjang Masa
“Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia,”(Bung Karno)

Zaman terus berganti karena waktu terus berputar. Komponen terpenting dalam suatu bangsa ialah kelangsungannya, yaitu para generasi penerus yang akan menumpu bangsa menjadi penggerak perjuangan generasi tua. Kiprah pemuda sudah mulai membumbung ketika era reformasi, dimana terkuaknya kasus KKN pada masa jabatan presiden Soeharto. Dalam momen itu pemuda melakukan pergerakan masa untuk menyampaikan aspirasi rakyat kecil. Para pemuda berfikir inovatif dengan membuat organisasi-organisasi pemersatu bangsa, seperti Pecinta alam, peduli lingkungan, hingga komunitas-komunitas ­future leader sebagai sarana pemupukan karakter-karakter bangsa. Bukan hanya prestasi di kancah nasional, namun pemuda Indonesia mulai mengukir prestasi di kancah internasional. Seperti halnya, Peter Firmansyah dengan membuat brand Petersaysdenim, yaitu brand yang didaulat sejajar dengan Machbet-nya Tom Delonge dan bahkan sudah diekspor ke beberapa Negara.

Kesuksesan Andrea Hirata juga membuktikan bahwa pemuda Indonesia mampu bersinar di kancah internasional. Fahma Waluya juga dinobatkan sebagai pembuat game termuda di dunia yang punya mimpi besar. Begitu pula dengan Muhammad Iman Usman, Duta Muda ASEAN dengan segudang penghargaan karena menjadi penggerak Indonesia Future Leader untuk mewujudkan perubahan global.  Indonesia patutlah berbagga dengan prestasi-prestasi yang mereka torehkan. Beralih ke pedalaman Indonesia sekilas terlihat semangat belajar yang menggebu-gebu dari murid-murid. Semangat ini merupakan prestasi juga untuk kemajuan Indonesia karena tanpa semangat mereka tidak akan terwujud Indonesia sebagai Negara maju.

Waktu terus berlalu, generasi muda dulu kini mulai menginjak generasi tua. Saatnya generasi tua menyerahkan tampuk kekuasaanya kepada generasi muda. Prestasi-prestasi yang telah diraih oleh pemuda Indonesia tidak akan mengubah sepanjang zaman, tetapi prestasi itu memerlukan keberlanjutan ke generasi muda. Permasalahnnya kini pemuda Indonesia terombang-ambing oleh derasnya arus globalisasi. Budaya luar negeri masuk dengan bebas mempengaruhi moralitas bangsa, bahkan dapat mengkikis nilai-nilai luhur bangsa yang tercantum dalam sila-sila pancasila. Kencenderungan mengadopsi budaya asing telah melemahkan rasa nasionalisme, idealisme, serta menghapuskan semangat pemuda masa depan. Hal ini menyebabkan hedonisme, egois, serta rasa kurang peduli terhadap sesama.

Beberapa masalah yang kini dihadapi oleh pemuda Indoesia antara lain, penggunaan bahasa Indonesia yang semakin memburuk karena terkontaminasi oleh bahasa-bahasa alay yang dianggap tren dikalangan mereka. Seperti contohnya di Malang saja, kini marak bahasa tebalik Malang menjadi Ngalam atau Oskab menjadi Bakso. Kebanyakan mereka menggunakan bahasa tersebut karena pengaruh pergaulan. Perilaku menyimpang seperti penggunaan narkoba, obat-obatan terlarang, dan free sex juga mewarnai dunia kepemudaan. Narkoba tidak lagi dibawah pengawasan medis ataupun pihak yang berwenang, tetapi disalahgunakan menjadi obat-obatan terlarang yang diperuntukkan bukan untuk kepentingan medis.

Pada tahun 2011, tercatat dalam data Komisi Nasional Perindungan Anak (Komnas PA) bahwa telah terjadi tawuran antar-pelajar sebanyak 339 kasus dan memakan 82 orang korban jiwa. Padahal pada tahun sebelumnya hanya 128 kasus. Tak jauh beda dengan data di atas, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melansir terdapat 107 kasus pengaduan kekerasan kepada anak dengan bentuk kekerasan seperti kekerasan fisik, kekerasan psikis, pembunuhan, dan penganiayaan.

Angka-angka yang telah diketahui oleh khalayak ramai itu berbanding terbalik dengan prestasi-prestasi yang diperoleh pemuda Indonesia baik tingkat nasional maupun tingkat internasional. Kesimpulannya sebagian pemuda menorehkan prestasi namun sebagian besar masih banyak pemuda yang terjerembab dalam globalisme yang kian menginveksi semua kalangan, termasuk kalangan muda. Seperti apa yang telah di katakan Bung Karno bahwa generasi muda yang tentunya memiliki kelangsungan dari zaman ke zaman yang bisa menggoncangkan dunia bukan generasi berprestasi yang hanya mampu bertahan dalam sebuah zaman.

Pemerintah memiliki andil penting dalam hal ini karena para pemuda-pemuda nantinya akan memegang tanggung jawab besar kepada nusa dan bangsa. Pemerintah dapat mengendalikan  free sex di kalangan remaja dengan memperketat lagi undang-undang pernikahan serta menggencarkan sosialisasi di setiap satuan pendidikan. Selain sosialisasi di setiap sekolah, pemerintah perlu melakukan pendekatan dan memberikan pemahaman lebih mengenai bahaya narkoba dan sex bebas di luar nikah dengan sosialisasi melalui media elektronik atau tertulis dalam bentuk penyuluhan maupun himbauan.

Keluarga memiliki peran penting dalam pembentukan karakter pemuda-pemudinya karena lingkungan pertama yang dikenal oleh pemuda-pemudi ialah lingkup Ayah, Ibu, dan saudara-saudara. Banyak hal yang bisa orang tua  lakukan, seperti memberi pemahaman tentang moral dan memperhatikan setiap pertumbuhan dan perkembangan putra-putri mereka karena menurut beberapa sumber mengatakan bahwa penyebab utama anak melampiaskan kurangnya kasih sayang orang tua ke dunia narkoba dan sex bebas. Perhatian dan kasih sayang hendaknya dicurahkan senantiasa.

Saat ini mulai digalakkan pendidikan berkarakter demi membangun kembali karakter bangsa yang bermoral tinggi dan berintegritas serta mumpuni dalam kecakapan hardskill dan softskill. Sakhyan menegaskan, kebijakan pemerintah (Kemenegpora) dalam melaksanakan pembangunan kepemudaan ada dua, yakni penguatan pembentukan karakter bangsa serta peningkatan kapasitas dan daya saing pemuda. Kebijakan ini merupakan wadah eksplorasi pemerintah untuk menguatkan kembali identitas bangsa, yang mana didukung dengan program pertukaran pelajar, pelatihan kepemudaan, jamboree pemuda, serta program-program laninnya. Harapannya segala upaya mulai dari tingkat sosialisasi terrendah, yaitu keluarga hingga berbagai program dari pemerintah dapat membangun karakter bangsa, menunjukkan identitas bangsa yang sesungguhnya dan membentuk generasi penerus sepanjang masa. (uma)

Comments