Leadership
Academy
Indonesia dapat menjadi salah satu
negara yang berpengaruh di dunia, dalam bidang produksi maupun pendapatan
perkapitanya. Tinggal menunggu waktu, sekarang, nanti, atau hanya keinginan
belaka. Ya semua mengambil peran dalam mewujudkan Indonesia Emas 2030. Tonggak
terpenting yang memiliki esensi fundamental dalam pembangunan berkelanjutan
Indonesia adalam generasi mudanya, generasi penerus pemerintahan bangsa.
Sebuah langkah kecil menyongsong
masa depan Indonesia jaya yaitu, Leadership Academy. Academynya para Leader
yang digembleng di “kawah condro dimuko” selama 3 tahun setingkat Sekolah
Menengah Atas. Program ini bukan sekedar memilih para pelajar yang berprestasi di bidang akademik untuk
menimba ilmu di SMAN 10 Malang, namun guna menyiapkan pemimpin masa depan yang
berjiwa pancasila.
Sistem pendidikan hampir sama
dengan SMA lainnya, namun ada beberapa hal yang membuat sekolah ini berbeda
dengan sekolah pada umumnya. Menilik kehidupan sehari-harinya yang notabene
tinggal bersama dalam perbedaan di Asrama Tlogowaru SMAN 10 Malang,
perbedaanlah yang menumbuhkan kekuatan bersama. Berasal dari berbagai daerah, Kalimantan,
Sumatra, Papua, Jawa, bahkan beberapa siswa dari Sekolah Indonesia di
Sabah Malaysia sehingga interaksi setiap
hari membuat setiap pribadi siswa terbiasa untuk beradaptasi dengan budaya,
kebiasaan, kesopanan, sifat yang beraneka ragam.
Sepertihalnya, logat bicara. Gaya
bahasa siswa Papua cenderung menggebu-gebu penuh semangat, bahkan seolah hendak
marah. Berbeda dengan siswa Jawa yang mengenal tata karma berbahasa Jawa
sehingga bahasa yang digunakan tergantung lawan bicaranya. Oleh karena itu, hal
ini melatih siswa untuk saling memahami, mengerti satu sama lain, dan mengaplikasikan
salah satu value dari 7 Habits yaitu, seek first to understand then to be
understood atau memahami orang lain terlebih dahulu selanjutnya dipahami orang
lain.
Selain asrama, SMAN 10 Malang
mendapat julukan Miniatur of Indonesia karena muatannya mencerminkan Indonesia
yang ideal sesuai dengan Pancasila. Segala bentuk aktivitas dipusatkan kepada
siswanya sehingga setiap acara dirancang dan diatur oleh siswanya sendiri, hal
ini dimaksudkan agar kemampuan EO (event organizer) tumbuh sejak dini untuk
mempersiapkan go to university . segala aspek tidak luput dari program-program
SMAN 10 Malang, aspek sosial dikembangkan melaui kegiatan community service
yaitu, melayani dan membantu masyarakat disekitar SMAN 10 Malang Tlogowaru.
Begitupula aspek kewirausahaan dinaungi oleh organisasi YEP (Youth
Entrepreneurship Program) dengan memproduksi makanan, souvenir, dan sticker
karya sendiri.
Setiap organisasi memiliki fungsi
dan perannya masing-masing sehingga tidak ada tumpang-tindih kewenangan. Jika
Indonesia memiliki MPR, maka SMAN 10 Malang memiliki MPK (Majelis Perwakilan
Kelas) yang berwenang menampung aspirasi dan mengevaluasi kinerja OSIS. Namun
MPK disini lebih fokus pada aspirasi setiap individu bukan golongan tertentu
sehingga sekecil apapun aspirasi pasti akan didengar dan ditindaklanjuti sesuai
prosedur yang berlaku. Sedangkan OSIS melaksanakan kinerja lapangan yang
diawasi dan dievaluasi MPK. Setiap organisasi saling menghargai wewenang
masing-masing karena menganut system separating power, jadi setiap organisasi
memiliki kekuatannya masing-masing dan tidak memiliki wewenang ganda.
Dengan program one man one
leadership seluruh siswa berkesempatan untuk memegang satu kepemimipinan,
entah dalam organisasi ataupun kegiatan sehingga dapat dipastikan seluruh siswa
Leadership Academy memiliki bekal menjadi pemimpin Indonesia selanjutnya.
Nantinya siswa-siswi SMAN 10 Malang diharapkan menjadi tauladan, contoh
pemimpin masa depan Indonesia yang siap dengan kondisi apapun, mampu
mempertahankan nilai moral yang tinggi ditengah belenggu para mafia, dan
berkomitmen dengan apa yang dilakukan. (uma)

Comments
Post a Comment