Pemburu Harian



(1)
Memandang fajar dikala subuh
Kabut berkepul tebal menyiku gubuk rubuh
Nafas tersengal-sengal dan mendesak
Perut meronta perih semalam risak
(2)
Surya melambai beri harapan
Ingatkan sepinggan nasi mengganjal hari
Kami enggan terbujur tanpa daya dan asa
Tak sampailah menadah mengais belas kasih
(3)
Dengan langkah gontai menerjang tekukur hidup
Memburu rezeki di bantaran Ciliwung
Tak henti-hentinya mengail bangkai kuyup
Mengais puas tak terbendung
(4)
Meski jiwa bersemayam langsir
Terik bakaran panas, menjilat berlekat
Tiup sepoi masuk berdesir
Asap berayun mengular pekat
(5)
Hidup menggantung, terjerembab
Memanggul karung, berkawan bangkai bernilai
Berduyun-duyun serbu pengepul
Neraca menimbang pulang bersyukur
Pulang menggenggam senyuman Pak Karno
Mengingat sepinggan nasi, hati kelu menukar genggaman
(6)
Sebelum senja menelisik mengarungi cakrawala
Nampak janggal masa kami berlalu penuh peluh
Wakil-wakil kami terbahak-bahak
Meringis mengiris menghantui hati
(7)
Batin menjerit ditarang
Mengutuki pejuang tipu muslihat penindas hak terlarang
Janji seringai tebar senyum
Nyata sungguh  membumbung mengatas jauh
Sudikah sedetik saja berkawan kami
Sungguh tragis memangsa juang luhur (uma)

Comments