Eksistensi Pers Mahasiswa di Tengah Dinamika
Kampus
Kampus, daerah lingkungan bangunan utama perguruan
tinggi (universitas, akademi) tempat semua kegiatan belajar-mengajar dan
administrasi berlangsung. Menurut KBBI kampus masih berarti tempat belajar-mengajar,
mahasiswa belajar ilmu dari seorang dosen. Namun, sekarang arti itu mulai pudar
seiring dinamika yang terjadi.
Campus as miniature of
Indonesia
Sebagaimana sebuah pemerintahan
pasti ada lembaga eksekutif dan lembaga legislatifnya, kampus pun juga begitu.
Badan Eksekutif Mahasiswa sebagai eksekutif dan Dewan Legislatif Mahasiswa sebagai penyambung suara rakyat. Lalu
bagaimana dengan pers situ sendiri?? Eksistensi pers berdiri di grey area,
area abu-abu diantara hitam dan putih. Perannya dituntut untuk tetap netral
memberikan informasi yang edukatif, komunikatif, dan rekreatif untuk seluruh
pembaca pada umumnya, khususnya mahasiswa.
Tak dapat dipungkiri bahwa eksistensi
pers membantu mahasiswa mencapai hakikat mahasiswa sebenarnya. Sebagai agent
of change, segala bentuk informasi objektif mampu mendorong pikiran kritis
untuk selalu tanggap terhadap permasalahan-permasalahan yang ada. Oleh karenanya,
mahasiswa merupakan agen-agen perubahan harapan bangsa. Tidak ada pergerakan
apabila tidak ada informasi yang megalir.
Pers sebagai media aliran informasi
juga menghadapi berbagai macam tantangan, seperti aliran sungai yang dapat dibendung
oleh manusia. Aliran informasi dapat dibendung oleh politik kepentingan, ketika
informasi tidak lagi netral atau memihak salah satu kubu. Hal ini menjadi
isu-isu segar setiap adanya pemira atau pemilihan raya. Maka dari itu, pers menjawab
tantangan itu dengan berpegang teguh pada kode etik dan fungsi.
Fungsinya sebagai penyeimbang
membuat pers berdiri tegak tanpa intervensi dari lembaga manapun, tetapi tetap
menjadi media penyalur informasi, menampung informasi, dan wadah mahasiswa
berkarya. Ikhwal dinamika kampus yang tidak lagi berfungsi sebagai tempat belajar-mengajar
saja, melainkan lingkungan mahasiswa-mahasiswa tumbuh dengan pikiran kritisnya
yang diwujudkan dengan aksi nyata pada lingkungan sekitar sesuai dengan tri
dharma perguruan tinggi.
Secara fundamental, matinya pers
adalah matinya mahasiswa berfikir kritis dan hidupnya pers ialah awal mahsiswa berkontribusi.
Berkontribusi untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik dengan senantiasa peka
terhadap permasalahan-permasalahan yang terjadi. Tidak hanya berdiam diri tanpa
berbuat apa-apa. Sekecil apapun sebuah aksi, maka akan membawa perubahan.
Intinya
bergerak. Bergerak bersama pers mewujudkan Indonesia yang lebih baik. (uma)
Comments
Post a Comment