Mahasiswa yang (tak) dirindukan
SURABAYA-(29/8) MYLC (Moslem Young Leader Class), yaitu kegiatan
yang mewadahi mahasiswa baru untuk bergegas mempersiapkan diri di dunia
perkuliahan. Mulai dari mengatur kehidupan hingga belajar mengembangkan diri. Dalam
seminar yang ke-dua ini, MYLC menghadirkan 3 pembicara inspiratif dari
Universitas Airlangga. Harapannya maba yang mengikuti kegiatan ini dapat memetik
langkah-langkah kesuksesan para narasumber.
Sorak-sorai, tepuk tangan menggema dalam ruang Soekarno
Hatta, Pusat Bahasa Universitas Airlangga ketika satu per satu narasumber
memasuki ruangan. Sosok yang sedang digandrungi akhir-akhir ini, yaitu Febriyan
Kiswanto, Ketua BEM Universitas Airlangga 2015, pemuda pelopor Surabaya, dan founder
“SEBUNG”. Lain halnya dengan Arif Syaifurrisal, Direktur Penerbit SAGA, SAGA
merupakan penerbit muda yang menaungi para Ksatria Airlangga (Mahasiswa
Universitas Airlangga). Misi utamanya ialah “Airlangga untuk Indonesia” mencetak
dan mendistribusikan buku karya Ksatria Airlangga ke seantero Indonesia. Dan
yang tak kalah inspiratif ialah Gading Eka Puja, mahasiswa berprestasi
sekaligus wakil ketua BEM 2014 yang kini sedang menlanjutkan studi profesinya
dan bekerja sama dengan penerbit SAGA.
Dalam seminar kecil tersebut, moderator memberikan
beberapa pertanyaan nostalgia kepada narasumber untuk merangsang pola pikir
mahasiswa baru dan menjadi mahasiswa yang selalu dirindukan. Baik prestasi
non-akademik maupun akademik. Salah satu pertanyaan medasar ialah “Bagaimana
mengatur waktu untuk menjadi mahasisa yang dirindukan?” Gading Ekapuja sendiri
sempat mengalami fluktuasi IPK karena kesibukannya dalam bidang perlombaan dan
organisasi, mantan wakil ketua BEM ini aktif menghadiri konferensi
internasional dan berbagai macam kegiatan lainnya hingga sering meninggalkan
kuliah.
“Jika belajar dengan sungguh-sungguh, maka nilainya pasti
bagus. Namun perbedaa antara setengah belajar dan tidak belajar sama sekali
tidak ada. Lalu saya memilih tidak belajar.” Ujar Gading dengan suara tegasnya.
Begitupula dengan Arif Syaifurrisal, berorganisasi,
aktif, dan berprestasi mengorbankan kuliahnya, meski molor satu tahun
penghargaan Mahasiswa Berprestasi menjadi kebaggan orang tuanya. Berbeda dengan
Febryan Kiswanto, anak asli Suroboyo. Pembagian waktunya tidak seperti anak
kos, ia masih memiliki tanggung jawab kepada adik dan kedua orang tuanya. Pembagian
waktunya berpegang teguh pada system MHMMD (Mengelola diri dan Merencanakan
hidup masa depan), yaitu dengan menuliskan kegiatan apa saja yang harus
dikerjakan dalam kalender harian, bulanan, dan bahkan tahunan.
“Biarkan mengalir, tetapi tetap ada pengangan. Jangan
sampai masuk ke got.” Ujar Febryan Kiswanto atau yang akrab dipanggil Cak Feb
ini.
Disisi lain tugas mahasiswa menurut Arif Syaifurrisal,
yaitu “Kuliah, agent of change, dan moral force.” setiap orang tua
pasti ingin anaknya kuliah rapi, kuliah dengan benar. Tetapi mahasiswa adalah agent
of change, pemikiran kritis mahasiswa dalam menaggapi setiap kebijakan
pemerintah diharapkan membawa perubahan yang diidamkan rakyat. Sedangkan moral
force atau iron stock sangat perlu adanya, apalagi disaat seperti ini. Dollar
semakin meroket, rupih tiarap terseret-seret dalam kisaran 14.000, impor membengkak,
pemecatan dimana-mana, dan tanda-tanda krisis sudah mengintai kapan saja. Desakan
mahasiswa untuk pemerintah ialah
tantangan masa kini.
“Jika saya atau masyarakat yang berdemo, turun di jalan. Kami
akan dianggap aneh-aneh. Entah itu untuk mencari uang atau mencari sensasi
belaka. Sosok ideal untuk berdemo ialah mahasiswa. Siapapun akan berfikir bahwa
demonya mahasiswa masih suci atas kepentingan rakyat. “ lugas Arif, alumni lulusan
tahun lalu Universitas Airlangga.
“Sesungguhnya, mahasiswa tidak memiliki tugas memberikan
solusi, pemerintah sudah terlalu pintar untuk memimpin negara. Tidak lazim jika
mahasiswa yang belum bergelar disandingkan dengan professor berilmu tinggi.
Pemerintah memiliki segudang solusi, tetapi terkadang lupa untuk menyelesaikan
masalah dengan solusi. Dalam hal ini mahasiswa menjadi pengingat pemerintah.”
Tambah Arif. Seperti halnya jika seorang ayah bermain judi, tidak mungkin
kita memberikan solusi “Yah, ayah harus begini, begini, dan begini. Tidak
mungkin. Sang anak hanya mampu member peringatan supaya ayahnya sadar “ Yah,
kalau ayah main judi lagi. Aku tidak mau sekolah.” Itulah salah satu bentuk
demo yang berfungsi sebagai pengingat menurut pria asal Bojonegoro tersebut.
Pengingat seperti apa? Sering kali menerbitkan petisi,
namun tak ada hasil. Hanya berlalu dalam selembar kertas. Surat terbuka tak
memiliki peran pada akhirnya. Suara mahasiswa masih memiliki idealis tinggi di
mata masyarakat.
“Jangan hanya mengkritik, tetapi tidak berbuat apa-apa.
Jangan pernah menganggap demo itu salah, ketika kalian tidak berbuat apa-apa. Sekalipun
tulisan kalian tentang “demo adalah salah” dimuat di Koran, itupun tak akan
menjamin pemeritah melakukan perubahan.” Tandas Gading, mahasiswa yang dulunya
rutin mengikuti demonstrasi.
Indonesia negara demokrasi dengan demonstrasi merupakan wadah
kebebasan pendapat. Terlepas didengar atau tidak didengar suara kita, yang
terpenting kita sudah memanfaatkan hak berpendapat sebagai warga negara.
Memperjuangkan suara rakyat.
Terlepas dari pro-kontra terhadap tugas mahasiswa dalam
menyuarakan suara rakyat, hal terberat ketua BEM 2015 ialah “Mengajak
teman-teman untuk berdemo.” Telah terjadi pergeseran budaya, dulu arek-arek
Surabaya terkenal dengan semangat mengapi-api memperjuangkan keadilan. Tempat
lahirnya sumpah pemuda. Tempat pusat para pejuang. Tempat pergerakan. Tempat
awal pemuda bangkit. Namun sekarang tak terdengar gaungnya. (uma)
Comments
Post a Comment